GARUT — JejakInformasiJabar.com, Dugaan persoalan pelayanan medis di RSUD dr. Slamet Kabupaten Garut kembali mencuat. Keluarga Salasabila Rizkia mempertanyakan kondisi hidung anak mereka yang menurut keterangan keluarga mengalami perubahan bentuk setelah menjalani perawatan di ruang Perinatologi selama kurang lebih 48 hari.
Persoalan tersebut, menurut keterangan keluarga, terjadi sekitar dua tahun lalu, pada 2024. Hingga September 2026, keluarga menyatakan belum memperoleh kepastian mengenai bentuk pertanggungjawaban dari pihak rumah sakit atas kondisi yang dialami Salasabila.

Menurut keluarga, selama menjalani perawatan, Salasabila sempat menggunakan selang oksigen atau alat bantu pernapasan. Setelah menjalani perawatan dan diperbolehkan pulang, keluarga kemudian mendapati adanya perubahan pada bagian hidung anak tersebut.
Keluarga menduga perubahan bentuk hidung tersebut berkaitan dengan penggunaan alat medis selama menjalani perawatan. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan penjelasan medis dan verifikasi lebih lanjut, termasuk melalui rekam medis pasien serta keterangan resmi dari pihak RSUD dr. Slamet.
Keluarga juga mengungkapkan bahwa sekitar satu bulan setelah Salasabila diperbolehkan pulang, seseorang bernama Asep yang disebut sebagai staf rumah sakit datang menemui keluarga.

Menurut keterangan keluarga, saat itu Asep memberikan uang sekitar Rp2 juta. Keluarga menyebut pemberian tersebut disertai penyampaian mengenai rencana pertanggungjawaban atau bantuan hingga proses tindakan operasi untuk memperbaiki kondisi hidung Salasabila.
Namun, keluarga menyatakan janji tersebut hingga kini belum memperoleh kepastian sebagaimana yang mereka harapkan.
Faruk, ayah Salasabila, mengaku keluarga sudah hampir dua tahun menunggu kejelasan terkait persoalan tersebut.
“Kami sudah menunggu pertanggungjawaban ini hampir dua tahun, Pak. Waktu itu mereka datang hanya memberikan uang sekitar Rp2 juta dan berjanji akan bertanggung jawab sampai proses operasi. Tapi sampai sekarang kami hanya bisa meratapi kesedihan melihat anak kami yang tadinya normal, sekarang hidungnya menjadi cacat seumur hidup,” ungkap Faruk.
Menurut Faruk, keluarga tidak ingin persoalan tersebut terus berlarut tanpa kejelasan. Ia berharap ada pihak yang dapat membantu mengawal persoalan tersebut agar kondisi anaknya mendapatkan perhatian dan keluarga memperoleh kepastian.
“Kami akan menuntut keadilan dan meminta pertolongan kepada seluruh pihak supaya pihak rumah sakit bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada anak kami,” tegas Faruk.
Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut, staf bagian handling complaint RSUD dr. Slamet menyampaikan bahwa pihaknya merupakan pelaksana dan persoalan tersebut perlu dikomunikasikan dengan bagian Humas, dalam hal ini Pak Erli.
Pihak rumah sakit juga menyampaikan adanya rencana pertemuan untuk membahas informasi yang disampaikan redaksi serta menentukan langkah tindak lanjut yang akan dilakukan oleh manajemen rumah sakit.
Keterangan tersebut menjadi bagian dari proses konfirmasi redaksi untuk memperoleh penjelasan dari pihak rumah sakit mengenai persoalan yang disampaikan keluarga Salasabila.
Persoalan tersebut turut mendapat perhatian dari salah seorang aktivis Kabupaten Garut, Aceng Lukman. Ia menyatakan siap mendampingi dan mengawal keluarga hingga persoalan tersebut memperoleh kejelasan.
“Ini merupakan perbuatan yang zalim. Kami akan membantu mendampingi dan mengawal kasus ini sampai akhir. Pihak rumah sakit harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi kepada bayi tersebut apabila memang terbukti adanya kelalaian,” ujar Aceng Lukman.
Aceng menegaskan, pihaknya akan terus mengawal persoalan tersebut hingga keluarga memperoleh kejelasan serta pihak yang nantinya terbukti bertanggung jawab menjalankan kewajibannya sesuai ketentuan yang berlaku.
Redaksi JejakInformasiJabar.com menegaskan, penggunaan istilah dugaan dalam pemberitaan ini merupakan bagian dari prinsip kehati-hatian jurnalistik. Redaksi belum menyimpulkan telah terjadi malapraktik, kelalaian, ataupun kesalahan medis.
Kondisi hidung Salasabila dan kaitannya dengan proses perawatan medis pada 2024 masih membutuhkan verifikasi berdasarkan dokumen medis, rekam medis pasien, keterangan tenaga medis, serta penjelasan resmi dari pihak RSUD dr. Slamet.
JejakInformasiJabar.com akan terus mengikuti perkembangan kasus tersebut hingga terdapat kejelasan mengenai fakta medis, langkah penanganan, serta bentuk pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang berkepentingan.
Tidak ada komentar