‎Audiensi Dugaan Malapraktik Salsabila Rizkia Tak Temui Kesepakatan, Pemuda Merah Putih Siapkan Langkah Hukum ‎

waktu baca 7 menit
Jumat, 2 Okt 2026 17:20 313 F BOY

GARUT — JejakInformasiJabar.com, Persoalan dugaan malapraktik yang dialami Salsabila Rizkia kembali bergulir setelah digelarnya audiensi antara keluarga Salsabila, pihak RSUD dr. Slamet Garut, Pemuda Merah Putih, Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, serta Komisi IV DPRD Kabupaten Garut, Jumat (2/10/2026).

‎Audiensi tersebut dihadiri Direktur RSUD dr. Slamet Garut, dr. Inge Andriani Heriawan, M.Si., M.K.M., beserta jajaran rumah sakit, termasuk bagian Humas dan handling complaint. Hadir pula unsur Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, kader PPA, keluarga Salsabila, serta perwakilan Pemuda Merah Putih.

‎Dari Pemuda Merah Putih hadir Aceng Lukman selaku penanggung jawab, sementara F. Boy hadir mewakili unsur koordinator.

‎Pertemuan tersebut turut difasilitasi Komisi IV DPRD Kabupaten Garut dan dihadiri Ketua Komisi IV, Asep Rahmat, S.Pd.

‎Audiensi merupakan tindak lanjut atas persoalan yang sebelumnya mencuat terkait keluhan keluarga Salsabila Rizkia yang mengaku telah hampir tiga tahun menunggu kepastian mengenai kondisi anak mereka sekaligus pertanggungjawaban atas persoalan yang mereka keluhkan.

‎Sebelumnya, keluarga menyampaikan bahwa Salsabila menjalani perawatan di ruang Perinatologi RSUD dr. Slamet Garut selama kurang lebih 48 hari pada 2024 dan sempat menggunakan alat bantu pernapasan.

‎Setelah diperbolehkan pulang, keluarga mengaku melihat adanya perubahan pada bagian hidung Salsabila. Keluarga kemudian menduga perubahan tersebut berkaitan dengan penggunaan alat medis selama menjalani perawatan.

‎Namun, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta medis. Penyebab perubahan pada hidung Salsabila masih membutuhkan pembuktian melalui rekam medis, pemeriksaan medis, keterangan tenaga kesehatan, serta penjelasan resmi pihak rumah sakit dan pihak terkait.

‎Dalam audiensi, Direktur RSUD dr. Slamet Garut, dr. Inge Andriani Heriawan, M.Si., M.K.M., bersama jajaran rumah sakit menyampaikan komitmen untuk berupaya memberikan penanganan terhadap persoalan yang dialami Salsabila.

‎Menurut keterangan yang disampaikan dalam audiensi, pihak rumah sakit akan fokus pada aspek pelayanan kesehatan dan upaya penanganan terhadap kondisi Salsabila, termasuk kemungkinan tindakan operasi plastik atau operasi perbaikan apabila secara medis dinilai diperlukan.

‎Pihak rumah sakit juga menyampaikan bahwa persoalan tersebut menjadi perhatian manajemen dan akan dikoordinasikan untuk menentukan langkah penanganan lebih lanjut.

‎Meski demikian, komitmen tersebut belum menghasilkan kesepakatan dengan pihak keluarga mengenai seluruh tuntutan yang diajukan.

‎Pertama, keluarga meminta pertanggungjawaban atas kondisi hidung Salsabila melalui tindakan operasi plastik atau operasi perbaikan dengan tujuan mengembalikan bentuk hidung seperti sebelumnya, sepanjang tindakan tersebut dinyatakan layak dan diperlukan secara medis.

‎Kedua, keluarga meminta restitusi atas kerugian material yang selama hampir tiga tahun telah dikeluarkan untuk pengobatan, kontrol, pemeriksaan kesehatan, transportasi, serta kebutuhan lain yang berkaitan dengan kondisi Salsabila.

‎Selain kedua tuntutan tersebut, pihak pendamping juga mendorong adanya transparansi mengenai rekam medis dan pemeriksaan menyeluruh terhadap persoalan yang dikeluhkan keluarga.

‎Pemuda Merah Putih juga mendorong agar apabila diperlukan, proses penelusuran fakta dilakukan secara objektif dengan melibatkan pihak yang memiliki kompetensi dan independensi, sehingga persoalan mengenai penyebab perubahan pada kondisi hidung Salsabila dapat memperoleh kejelasan berdasarkan data medis.

‎Mita, orang tua Salsabila Rizkia, menegaskan bahwa keluarga belum dapat menyatakan sepakat apabila dua tuntutan utama tersebut belum mendapatkan kejelasan.

‎Menurut Mita, persoalan yang dihadapi keluarga bukan hanya mengenai kondisi kesehatan Salsabila, tetapi juga beban ekonomi yang harus ditanggung selama hampir tiga tahun.

‎“Sebelum kedua hal tersebut disetujui, kami tidak akan sepakat. Karena selain daripada kesehatan, restitusi itu penting bagi kami,” ujar Mita.

‎Mita mengungkapkan bahwa selama hampir tiga tahun keluarga harus berupaya memenuhi biaya pengobatan dan pemeriksaan Salsabila. Bahkan, menurutnya, keluarga sampai harus berutang untuk membiayai kebutuhan pengobatan.

‎“Selama tiga tahun ini kami sampai ngutang untuk berobat. Sekali berangkat ambulans saja, untuk ambulans saja kami memerlukan uang Rp400 ribu ke Bandung,” ungkapnya.

‎Menurut Mita, biaya transportasi menggunakan ambulans, kontrol, pengobatan, dan kebutuhan kesehatan lainnya telah menjadi beban yang cukup besar bagi keluarga.

‎Karena itu, keluarga berharap aspek kerugian material tersebut tidak diabaikan dalam proses penyelesaian persoalan Salsabila.

‎Aceng Lukman selaku penanggung jawab Pemuda Merah Putih menyatakan bahwa audiensi belum menemukan jalan keluar yang disepakati bersama.

‎Ia menegaskan, apabila tidak ada kesepakatan mengenai tuntutan keluarga, pihaknya akan melanjutkan persoalan tersebut melalui jalur hukum.

‎“Kami akan lanjut kepada tahap LP atau laporan polisi karena audiensi ini tidak berakhir dengan kesepakatan,” ujar Aceng Lukman.

‎Menurut Aceng, hampir tiga tahun merupakan waktu yang panjang bagi keluarga untuk menunggu kepastian.

“Hampir tiga tahun itu bukan waktu yang singkat untuk pelayanan. Kenapa tidak dari dulu? Untuk tanggung jawab kenapa tidak dari dulu?” katanya.

‎Aceng juga mempertanyakan keberatan apabila keluarga meminta restitusi atas kerugian material yang telah dikeluarkan selama menjalani proses pengobatan.

‎”Ketika berbicara restitusi, kenapa keberatan?” tambahnya.

‎Selain menyatakan akan menempuh jalur hukum, Aceng juga menyampaikan tuntutan agar Direktur RSUD dr. Slamet Garut bertanggung jawab secara institusional.

‎Ia bahkan menyuarakan tuntutan agar Direktur RSUD mempertimbangkan pengunduran diri apabila persoalan tersebut terus berlarut tanpa penyelesaian yang dianggap jelas oleh pihak keluarga dan pendamping.

‎Tuntutan tersebut merupakan sikap yang disampaikan Pemuda Merah Putih dalam audiensi dan bukan merupakan kesimpulan dari pihak rumah sakit maupun DPRD.

‎Sementara itu, F. Boy yang hadir dalam audiensi menegaskan bahwa persoalan Salsabila kembali mendapatkan perhatian setelah adanya pemberitaan media dan pendampingan dari kalangan aktivis.

‎Menurut F. Boy, perhatian publik terhadap persoalan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kembali dibukanya ruang komunikasi antara keluarga dan pihak rumah sakit.

‎“Kasus ini terungkap kembali. Kalau bukan karena teman-teman media dan para aktivis, mungkin tidak akan ada solusi ataupun tanggung jawab dari pihak rumah sakit,” tegas F. Boy.

‎Ia berharap proses selanjutnya dapat memberikan kejelasan kepada keluarga, baik mengenai kondisi medis Salsabila maupun mengenai bentuk pertanggungjawaban apabila nantinya ditemukan adanya kesalahan atau kelalaian.

‎Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Garut, Asep Rahmat, S.Pd., menyampaikan bahwa pihaknya akan membantu memfasilitasi persoalan tersebut.

‎Asep Rahmat mengatakan Komisi IV dapat membantu mendorong pihak RSUD dr. Slamet Garut apabila rumah sakit belum memberikan pertanggungjawaban sebagaimana yang diharapkan keluarga pasien.

‎Namun, menurutnya, DPRD memiliki posisi sebagai pihak yang memfasilitasi komunikasi dan kemungkinan tercapainya kesepakatan antara keluarga dengan pihak rumah sakit.

‎“Saya akan membantu menekan pihak RSUD jika tidak bertanggung jawab atas permintaan keluarga pasien atau keluarga korban atas dugaan malapraktik,” ujar Asep Rahmat.

‎“Kami hanya bisa memfasilitasi kesepakatan kedua belah pihak, namun tetap kembali kepada kesepakatan dari pihak keluarga,” katanya.

‎Hingga audiensi berakhir, belum tercapai kesepakatan antara keluarga Salsabila dan pihak RSUD dr. Slamet Garut.

‎Keluarga tetap meminta dua hal utama, yakni pertanggungjawaban melalui tindakan operasi perbaikan terhadap kondisi hidung Salsabila serta restitusi atas kerugian material yang menurut keluarga telah mereka tanggung selama hampir tiga tahun.

‎Sementara pihak rumah sakit menyampaikan komitmen untuk memberikan perhatian dan penanganan kesehatan terhadap Salsabila, termasuk kemungkinan tindakan operasi apabila secara medis diperlukan.

‎Perbedaan tuntutan tersebut membuat audiensi belum menghasilkan kesepakatan akhir.

‎Pemuda Merah Putih kemudian menyatakan akan melanjutkan langkah berikutnya melalui jalur hukum, termasuk rencana membuat laporan polisi terkait dugaan yang dikeluhkan keluarga.

‎Selain itu, Aceng Lukman juga menyampaikan adanya rencana untuk menggelar aksi sebagai bentuk penyampaian aspirasi apabila persoalan tersebut belum memperoleh penyelesaian.

‎JejakInformasiJabar.com menegaskan bahwa pemberitaan ini tetap menempatkan persoalan tersebut sebagai dugaan malapraktik atau dugaan kelalaian pelayanan medis, bukan sebagai kesimpulan bahwa malapraktik telah terbukti.

‎Ada atau tidaknya kesalahan maupun kelalaian dalam pelayanan medis masih membutuhkan pembuktian berdasarkan rekam medis, pemeriksaan profesional, keterangan tenaga kesehatan, penjelasan manajemen rumah sakit, serta mekanisme hukum atau pemeriksaan lain yang relevan.

‎Apabila nantinya ditemukan adanya kesalahan atau kelalaian, keluarga berharap pihak yang bertanggung jawab menjalankan kewajibannya sesuai ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, apabila ditemukan adanya faktor lain yang menyebabkan kondisi Salsabila, keluarga juga berhak memperoleh penjelasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

‎Bagi keluarga Salsabila, hampir tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Mereka berharap persoalan tersebut tidak kembali berhenti pada koordinasi internal, melainkan menghasilkan kejelasan mengenai kondisi medis anak mereka sekaligus penyelesaian atas tuntutan yang telah disampaikan.

‎JejakInformasiJabar.com akan terus mengikuti perkembangan kasus ini, termasuk langkah keluarga dan Pemuda Merah Putih setelah audiensi, proses yang akan ditempuh melalui jalur hukum, serta respons manajemen RSUD dr. Slamet Garut dan pihak terkait terhadap tuntutan keluarga.

‎

‎(F. BOY)

‎

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA