‎Dari Dapur Rumah, Kue Ika Tembus Pesanan hingga Arab Saudi, Malaysia dan Kalimantan

waktu baca 4 menit
Minggu, 27 Sep 2026 19:40 710 F BOY

‎GARUT — jejakinformasijabar.com, Berawal dari hobi membuat kue untuk keluarga, usaha rumahan milik Ika (40) di kawasan Kampung Kaum Kidul, Desa Bayongbong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini berkembang dan memiliki pelanggan dari berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri.

‎Usaha yang dirintis sejak 2016 itu pada awalnya sama sekali tidak direncanakan menjadi sebuah bisnis.

‎Ika mengaku, dirinya hanya gemar membuat kue untuk keluarga. Namun, setelah seorang teman mencoba hasil buatannya dan menyukai rasa kue tersebut, pesanan mulai berdatangan.

‎“Awalnya hobi bikin buat keluarga saja, terus ada teman mencoba dan langsung suka. Kemudian minta dibuatkan, akhirnya malah banyak yang pesan dan jadi bisnis. Tidak direncanakan,” ungkap Ika.

Dari pesanan orang-orang terdekat, usaha tersebut kemudian berkembang melalui rekomendasi dari pelanggan ke pelanggan lainnya.

‎Seiring meningkatnya permintaan, produk yang dibuat Ika pun semakin beragam.

‎Saat ini, ia menerima pesanan kue ulang tahun, kue khitanan, kue pengantin hingga marmer cake.

‎Marmer cake menjadi salah satu produk yang disebut sebagai best seller. Sementara ketika baru memulai usaha, brownies potong menjadi salah satu produk yang pertama kali dijual.

‎Menurut Ika, perkembangan usahanya tidak terlepas dari promosi secara alami melalui pelanggan.

‎Selain rekomendasi dari mulut ke mulut, keberadaan usaha tersebut di Google Maps juga ikut memperluas jangkauan pelanggan.

‎Ika menuturkan, sang suami pernah berinisiatif memasukkan lokasi usahanya ke Google Maps. Dari sana, pelanggan dari luar daerah mulai mengetahui keberadaan usaha kue rumahan tersebut.

‎Pesanan bahkan pernah datang dari Kalimantan, Malaysia hingga Arab Saudi.

‎Bagi Ika, kondisi tersebut menjadi perkembangan yang tidak pernah dibayangkan ketika pertama kali membuat kue hanya untuk keluarga.

‎Dalam sekitar dua tahun terakhir, Ika merasakan peningkatan jumlah pesanan.

‎Ia menilai, kabar mengenai produknya semakin menyebar dari satu pelanggan ke pelanggan lainnya.

‎“Semakin banyak kabar dari mulut ke mulut juga sampai akhirnya jadi pada tahu,” ujarnya.

‎Meski pesanan terus bertambah, seluruh proses produksi hingga kini masih dilakukan dari rumah.

‎Ika masih menggunakan peralatan sederhana dan belum menggunakan peralatan produksi modern seperti industri kue berskala besar.

‎Dalam menjalankan aktivitas produksi, ia dibantu sekitar dua orang serta anggota keluarga.

‎Namun, Ika mengatakan dirinya berusaha mempertahankan kualitas bahan yang digunakan. Ia tidak ingin mengganti bahan dengan produk yang lebih murah apabila hal tersebut dapat memengaruhi kualitas dan cita rasa kue.

‎“Bahan-bahan tidak pernah diganti atau dikurangi. Walaupun harga bahan-bahan mulai naik, sebisa mungkin bahan tidak akan diganti dengan yang lebih murah,” tuturnya.

‎Bagi Ika, menjaga kualitas merupakan bagian penting untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan.

‎Di balik perkembangan usaha tersebut, sejumlah kendala juga masih harus dihadapi.

‎Salah satunya adalah pemadaman listrik dalam waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut terkadang menghambat proses produksi dan membuat beberapa pesanan terpaksa dibatalkan.

‎Selain itu, beberapa jenis bahan baku juga tidak selalu mudah ditemukan di sekitar tempat tinggal.

‎Untuk memenuhi kebutuhan tertentu, Ika harus mencari dan membeli bahan ke Garut. Jarak tersebut menjadi kendala terutama ketika mendapatkan pesanan secara mendadak.

‎Walaupun sudah memiliki pelanggan dari berbagai wilayah, Ika mengaku masih nyaman menjalankan usahanya dari rumah.

‎Untuk saat ini, ia belum terpikir membuka toko karena masih mempertimbangkan keterbatasan tenaga dan modal.

‎Namun, Ika memiliki cita-cita untuk mengembangkan usahanya menjadi lebih besar.

‎Ia membayangkan suatu saat memiliki sebuah tempat yang tidak hanya menjual kue, tetapi juga mengusung konsep kafe yang estetik, sehingga pelanggan dapat menikmati kue secara langsung di tempat.

‎Kue nantinya tidak hanya dijual dalam bentuk pesanan utuh, tetapi juga tersedia dalam bentuk per slice dan dapat dinikmati pelanggan secara langsung.

‎Bagi Ika, kebahagiaan dalam menjalankan usaha bukan hanya ketika mendapatkan banyak pesanan.

‎Ia justru merasa senang ketika pelanggan yang sebelumnya pernah memesan kembali datang dan melakukan pemesanan.

‎Terlebih ketika pelanggan merasa puas dengan rasa, bentuk, maupun desain kue yang dibuat sesuai permintaan.

‎“Bahagia ketika yang pernah pesan pesan lagi dan puas dengan rasa dan bentuk desain yang sesuai dengan yang di-request pemesan,” ungkapnya.

‎Dari sebuah hobi sederhana di dapur rumah sejak 2016, Ika kini mampu mengembangkan usaha kue yang menjangkau pelanggan dari berbagai wilayah.

‎Perjalanannya menjadi contoh bahwa sebuah usaha dapat tumbuh dari hal sederhana: hobi, konsistensi menjaga kualitas, dan kepercayaan pelanggan.

‎Bagi Ika, dapur rumah bukan sekadar tempat membuat kue, tetapi menjadi awal perjalanan sebuah usaha yang hingga kini terus berkembang.

‎

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA