Garut — JejakInformasiJabar.com, Hampir tiga tahun berlalu, keluarga Salsabila Rizkia masih menanti kepastian terkait kondisi anak mereka setelah menjalani perawatan di ruang Perinatologi RSU dr. Slamet Garut. Rabu (23/09/2026)
Faruk, ayah Salsabila, mengaku hingga September 2026 belum memperoleh kepastian mengenai pertanggungjawaban atas kondisi yang dialami putrinya. Menurut keterangan keluarga, terdapat perubahan bentuk pada bagian hidung Salsabila setelah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Peristiwa itu disebut terjadi sekitar 2024. Saat masih bayi, Salsabila menjalani perawatan selama kurang lebih 48 hari dan sempat menggunakan selang oksigen atau alat bantu pernapasan.
Setelah diperbolehkan pulang, keluarga melihat adanya perubahan pada bagian hidung Salsabila. Mereka kemudian menduga perubahan tersebut berkaitan dengan penggunaan alat medis selama perawatan.
Namun, dugaan itu belum dapat dinyatakan sebagai fakta medis. Penyebab perubahan pada hidung Salsabila masih membutuhkan pembuktian melalui rekam medis, pemeriksaan medis, keterangan tenaga kesehatan, serta penjelasan resmi pihak rumah sakit.
Faruk mengatakan, keluarga telah menunggu hampir tiga tahun untuk mendapatkan kepastian. Ia juga mengingat adanya pertemuan dengan seseorang bernama Asep yang disebut sebagai staf rumah sakit.
Menurut Faruk, sekitar satu bulan setelah Salsabila pulang, Asep datang menemui keluarga dan memberikan uang sekitar Rp2 juta. Pemberian tersebut, kata Faruk, disertai penyampaian mengenai rencana pertanggungjawaban atau bantuan hingga proses operasi untuk memperbaiki kondisi hidung Salsabila.

Namun, menurut keluarga, rencana tersebut hingga kini belum memperoleh kepastian.
“Kami sudah menunggu pertanggungjawaban ini hampir tiga tahun, Pak. Waktu itu mereka datang hanya memberikan uang sekitar Rp2 juta dan berjanji akan bertanggung jawab sampai proses operasi. Tapi sampai sekarang kami hanya bisa meratapi kesedihan melihat anak kami yang tadinya normal, sekarang hidungnya menjadi cacat seumur hidup,” ungkap Faruk.
Ia berharap persoalan tersebut tidak terus berlarut tanpa kejelasan dan meminta adanya penjelasan mengenai kondisi yang dialami putrinya serta langkah penanganan yang akan dilakukan.
“Kami akan menuntut keadilan dan meminta pertolongan kepada seluruh pihak supaya pihak rumah sakit bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada anak kami,” tegasnya.
Untuk memperoleh keberimbangan informasi, JejakInformasiJabar.com telah mencoba mengklarifikasi persoalan tersebut kepada pihak RSU dr. Slamet Garut.
Asep dari bagian handling complaint RSU dr. Slamet mengatakan pihaknya masih menunggu koordinasi dengan bagian Humas rumah sakit.
“Kami menunggu Humas rumah sakit untuk berkumpul dan menyampaikan informasi ini. Nanti apakah persoalan ini akan ditindaklanjuti oleh pihak manajemen atau seperti apa, kami masih menunggu hasil koordinasinya,” ujar Asep.
Hingga kini, penyebab perubahan pada hidung Salsabila serta ada atau tidaknya hubungan dengan proses perawatan pada 2024 belum dapat disimpulkan.
JejakInformasiJabar.com menempatkan persoalan tersebut sebagai dugaan malapraktik atau dugaan kelalaian pelayanan medis, bukan sebagai kesimpulan bahwa malapraktik telah terbukti. Pembuktian membutuhkan pemeriksaan medis, rekam medis, keterangan tenaga kesehatan, serta penjelasan resmi pihak rumah sakit dan pihak terkait.
Bagi keluarga, hampir tiga tahun merupakan waktu panjang untuk menunggu kepastian. Mereka berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada koordinasi internal, tetapi dapat memperoleh kejelasan berdasarkan fakta medis dan pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Apabila nantinya ditemukan adanya kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan medis, keluarga berharap pihak yang bertanggung jawab menjalankan kewajibannya sesuai ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, apabila ditemukan penyebab lain, keluarga juga berharap memperoleh penjelasan yang terang.
JejakInformasiJabar.com akan terus mengikuti perkembangan persoalan ini, termasuk respons manajemen RSU dr. Slamet Garut dan upaya keluarga Salsabila memperoleh kepastian mengenai kondisi medis serta pertanggungjawaban atas persoalan yang mereka keluhkan.
(F. BOY)
Tidak ada komentar